Search This Blog

Monday, August 30, 2021

MENJUAL SUZHOU

Di China orang muda pergi ke Suzhou untuk cuci mata dan orang-orang kaya bermukim di sana untuk menikmati hari tua. Demikian Yeny sang pramuwisata di Suzhou membuka cerita tentang kota berpenduduk enam juta di wilayah China bagian selatan itu. Begitu bis wisata berjalan tenang, gadis asli Suzhou yang fasih berbahasa Indonesia ini segera menerangkan apa saja yang spesial di kota kuno, Suzhou. “Kota kuno Suzhou memiliki alam yang indah, temperatur yang ramah, dan yang terpenting adalah di Suzhou ….,”  Yeny memberi jeda untuk menyebut lanjutannya “Suzhou adalah tempatnya gadis-gadis yang berparas cantik.“

Gadis manis yang bernama asli Su Tsi Yen itu memancing peserta tour untuk melatih bahasa Mandarin yang akan berhubugan dengan Suzhou. “Cantik itu apa dalam bahasa Mandarin?“ godanya dengan lincah. “Ayou”  jawabnya dengan centil. Rupanya tulisannya sama dengan bahasa Indonesia “Ayu” yang diucapkan seperti ayou. “Lalu kalau cantik sekali?” tanya lanjut dengan menggoda, lalu ia jawab “Ayou yo” sambil tertawa renyah. Yeny memberi pelajaran lebih dengan cara memanggil nenek, kakek, kakek dari pihak ayah, kakek dari pihak ibu dan sebagainya. Ia menambahkan lagi mengapa keluarga China tradisional yang memiliki anak lelaki dewasa segera menyiapkan tiga barang, yakni pispot, selimut, dan satu set mangkok-sumpit. Pispot berguna kelak untuk sang istri melayani suami kencing di dalam rumah pada malam hari, selimut untuk memberi kehangatan dan kemesraan tidur, dan mangkok-sumpit yang melambangkan doa untuk mereka segera memiliki anak. Dari aneka paparan tersebut nampak sekali wajah para wisatawan yang berjumlah dua puluh lima orang itu mulai tertarik pada budaya China, khususnya Suzhou.

 

Rumah Orang Kaya Kuno

Gadis Suzhou yang belajar Bahasa Indonesia hanya dalam setahun ini menggambarkan sebuah rumah kuno yang telah berdiri sejak Dinasti Ming, tepatnya sejak Tahun 1509. Rumah yang menjadi cagar budaya jaman kolonial tersebut dikenal sebagai rumah
Wang Xiancheng, seorang pejabat pemerintah pada jaman itu. Kolam, bebatuan yang tertata, teras, dan pepohonan yang indah sungguh menggambarkan kemewahan dan kenyamanan, dan itu semua  menandakan  pemiliknya yang kaya dan hasratnya untuk menikmai keindahan alam Suzhou.

“Mengapa orang kaya tinggal di sini?”, ia mengangkat memori pengunjung, dan serentak beberapa orang menjawab, “Alam dan gadis cantik” sambil tertawa riang. Puas dengan jawaban itu, Yeny melanjutkan kisahnya bahwa rumah itu tak pernah mengalami renovasi besar hingga saat ini, dinding dan kayu-kayunya masih asli sejak dibangun Tahun 1509.  

Masuk melawati  sebuah pintu kecil Yeny mengajak pengunjung belajar kebiasaan orang China kaya kuno yang selalu membuat pintu masuk yang kecil. Orang lain seperti terkelabuhi ketika mengetahui bagian dalamnya ternyata sangat luas. Kekayaan pada jaman kuno tidak ditunjukkan pertama-tama pada tampilan luar, tetapi isi dalamnya. Orang kaya kuno juga ditandai dengan batu yang beraneka bentuk, hampir seperti patung seni instalasi. Dengan lincah gadis yang menyebut dirinya “made in Souzou” ini berseloroh menyindir orang Indonesia yang suka pamer rumah dan mobil mewah.

 

Sutera

Lepas dari tempat itu ia mengajak pergi ke Tiger Hill, tempat pagoda miring yang tak jauh dari situ, dan kampung air ala Venezia, Italia,  dan kemudian mengunjungi  maskot Kota Suzhou, yakni Kampung Sutra, di mana di situ dialkukan budidaya ulat sutera, dan industry kain sutera dari jaman-ke jaman. Ia mengisahkan sejarah peredaran sutera sampai ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Semarang yang dibawa oleh  Panglima Cheng Ho dan para saudagar di kemudian hari. Dengan memukaunya ia mengisahkan mengapa orang-orang tua Suchou sehat-sehat, berjalan tegak meski mendaki, tak ada yang terkena penyakit rematik. Ironisnya,  putri China yang pernah ke Indonesia ini melihat banyak orang tua di Indonesia tak bisa berjalan tegak lagi. Dengan yakin ia mengatakan,  karena orang Indonesia tak melindungi persendiannya dengan selimut yang benar. Selimut terbaik terbuat dari sutra, tegasya. Secara detail ia menerangkan bagaimana ulat sutera memproduksi air liur yang mengandung kolagen yang sangat bermanfaat untuk melindungi persendian.

 

Kita Kaya

Melihat paparan gadis usia dua puluh lima hingga tiga puluhan tahun itu seorang teman yang duduk di sebelah saya berkata, “Ia pintar menjual”. Ya, itulah pembelajaran yang sangat berharga, ketika seseorang benar-benar mengenali sejarah kotanya, seluk-beluk yang istimewa, aneka perilaku dan filosofi yang melatarbelakanginya, serta mengemasnya menjadi sesuatu yang sangat membanggakan dan layaknya pedagang mempromosikan barangnya dengan mengatakan “Rugi, kalau kita tak mengunjungi kota ini.”

Hal ini mengingatkan kita pada betapa kayanya Indonesia dan betapa miskinnya cara bangsa ini mengemas kekayaanya. Bangsa-bangsa Eropa pada masa kolonial berlomba merebut tanah nusantara karena rempah-rempahnya, tetapi faktanya saat ini tak banyak budidaya yang secara sengaja dijadikan kebanggaan bangsa. Kita memiliki beberapa peninggalan sejarah aneka kerajaan besar yang ekspansinya sangat luas, tetapi kita tak mampu mengemas menjadi sumber-sumber pembentukan karakter bangsa yang layak dibanggakan. Kita memiliki pantai yang melingkari belasan ribu pulau, tetapi tak mampu mengemas dengan tradisi hidup masyarakat pulau tersebut dan secara masif “menjual” sebagai kekayaan yang layak dijadikan pembelajaran bagi bangsa lain. Alih-alih, orang serakah malah menjual fisik pulau-pulau yang ada kepada pihak-pihak yang tertarik menjadikannya pantai dan resort privat.

Hal ini pada hemat saya bukan hanya sebuah proyek pariwisata, tetapi proyek kehidupan, yang dimulai dengan pembentukan nilai-nilai individual dan komuniter dalam keluarga, dilanjutkan dengan pendidikan yang membebaskan  siapapun melakukan eksplorasi dengan bebas dan maksimal, dilanjutkan dengan rasa syukur atas kebinekaan yang membuahkan kekayaan tiada taranya. Pariwisata tinggal menjadi proyek untuk tersenyum mempersilakan bangsa lain datang menimba sukacita dari bangsa kaya sumber daya  dan sumber nilai-nilai kehidupan ini.

Kita boleh bangga, banyak tempat menjadi kampung wisata. Lebih bangga lagi kalau semua disertai dengan kedalaman pemahaman akan nilai-nilai yang dihidupi komunitas-komunitas lokalnya dari jaman ke jaman.


Suzhou, 19 Desember 2019

Thursday, March 26, 2020

JARING PERTOLONGAN HADAPI COVID19 BERBASIS RUMAH TANGGA


Tak terbayang  sebelumnya bahwa umat manusia di dunia akan mengalami pengalanan yang se-ribet ini, seolah kita harus berhadapan dengan musuh yang tak tampak tapi jelas mengancam. Wajar kalau kita gagap harus berbuat apa, pada saat yang sama kita terdorong untuk melakukan sesuatu, terlebih bagi masyarakat miskin yang tak memiliki cadangan untuk kebutuhan darurat begini.

Karena sudah ada banyak tawaran solusi untuk mengatasi masalah bersama secara kelembagaan, saya memikirkan aneka kemungkinan aksi solidaritas berbasis rumah tangga, di maana kelompok kecil warga bisa menyiapkan tanpa harus bergerombol.  Barangkali pilihan-pilihan berikut akan membantu kelompok-kelompok masyarakat yang akan merencanakan aksi nyata bagi warga miskin dan bagi tim medis.

1. MENYIAPKAN NASI BUNGKUS. Mengapa nasi bungkus? Karena proses pembuatannya tetap bisa dilakukan keluarga-keluarga mampu, dan membagikannya dari mobil atau motor tanpa harus berdekatan. Cukup di berikan pada salah satu orang tukang becak atau tukang ojek online untuk di bagikan pada teman-temannya dan segeralah pergi agar tidak terjadi percakapan panjang atau di keroyok warga lain yang ingin menerima “jatah”.

2. SEDIAKAN TONG ATAU DRUM  berisi air dan siapkan sabun di sebelahnya. Isilah air bersih dengan selang dari rumah terdekat. Pengisian airnya bisa dikoordinir dengan RT demikian juga  soal pembayaran tagihan airnya. Ini sangat diperlukan perkampungan miskin padat penduduk yang tidak tersedia fasilitas umum pencucian tangan.

3. BUAT DAN BAGIKAN MASKER. Pada saat ini banyak orang mengeluh karena tak tersedia masker di pasaran. Hal ini terjadi karena masyarakat tak terbiasa membuat “kebutuhan istimewa” ini.  Padahal masker masih bisa dibuat dari kain berlapis. Untuk itu toko-toko kain pasti melimpah bahan yang belum terjual. Ditambah lagi banyak penjahit kampung yang bisa diajak kerjasama untuk memproduknsinya, tak perlu pabrik. Tentunya perlu konsultasi dokter tentang spesifikasi masker yang akan dibuat agar tepat guna.

4. MENJADI RELAWAN PENYEPROTAN DISINFEKTAN. Banyak orang merasa awam dengan pekerjaan ini. Tetapi kita bisa belajar dari para para petani yang mengoperasikan tangki penyemprot hama, atau petugas kesehatan yang sering melakukan fogging atau pengasapan ketika ada ancaman malaria

5. MEMBANTU PEMBUATAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) BAGI TENAGA MEDIS.  Pada saat ini ada krisis jumlah pelindung diri FACE SHILED, atau pelindung wajah dengan mika penutup seperti helm. Perangkat ini adalah pelindung para petugas medis di rumah sakit dan di lapangan. Kalaupun ada orang yang bersedia membuat secara sosial, tetap perlu relawan untuk merakitnya.

6. MENGHIBUR. Telah viral bagaimana cara masyarakat Wuhan saling menguatkan satu sama lain, mereka berterak dari rumah atau apartemen masing-masing kearah rumah atau apartemen sebelah untuk saling menguatkan tetangga. Di Italia dan beberapa tempat lain ada beberapa penyanyi yang berkeliling menyanyikan lagu solidaritas dan yang membangkitkan semangat. Nah hiburan apa yang tak sulit dilakukan sekaligus aman untuk semua pihak. 

Tentu di luar itu masih perlu orang yang menggalang dana untuk menyiapkan semua aksi nyata ini.


Mari kita tak hanya menyalahkan pemerintah atau petugas apapun, melainkan cari cara-cara sederhana untuk terus saling membantu.


Friday, April 6, 2018

MAJU BERSAMA KAMBING

Pemandangan ini semula biasa saja. Sebuah kandang kambing dengan dua ekorl induk betina dan empat anak kambing tanggung yang sudah agak besar.  Yang mengejutkan adalah bahwa di situ ada lima anak kambing umur semingguan.

Rasa penasaran saya tentang kabing beranak-pinak itu ditimpali cerita bangga Alberto Baros, pemilik kambing-kambing tersebut. Lelaki berdarah Timor Leste itu begitu berhasrat mendemonstrasikan keajaibannya kepada saya. Dia berkata bahwa ini kandang perluasan, aslinya tak jauh di situ, berisi tigapuluhan kambing. Sayapun memandang dengan terperangah kandang penuh kambing yang ditunjuk Baros.

Mengawali kisahnya ia bercerita, "Saya beli satu kandang berisi 14 ekor kambing, seharga tuju juta." Hal itu terjadi tiga setengahan tahun lalu. Dari situ ia mengembangkan. Triknya dia hanya memelihara yang betina, sehingga beranak, beranak, dan beranak. Anak jantannya dijual. 

"Saya memilih kambing jenis kampung ini, gak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Dengan demikian jualnya gak susah." Konsumen memang membeli ukuran tanggung, harganya terjangkau untuk kurban dan aqikah keluarga-keluarga menengah ke bawah. Demikian ia menunjukkan kepiawaiannya membaca peluang. 

Baros telah memetik hasil. "Saya sudah pernah jual beberapa kali. Penjualan terbesar saya jadikan modal untuk beli tanah, sehingga kelak saya bisa berpindah di tempat yang dekat dengan sekolah, sehingga tak terlalu jauh menyekolahkan Dina anak saya, yang hampir masuk SD." Kisahnya bersinar-sinar.

Kehidupan produktif ini terjadi pada keluarga buruh perkebunan kelapa sawit PTPN 7 Afdeling 2 Sungai Lilin, Palembang, yang berjarak 150an kilometerdr pusat kota Palembang. Kisah kreatifitas ekonomi itu menjadi semakin berarti karena terjadi di antara para imigran dari Timor Leste yang migrasi ke Palembang setelah peristiwa referendum Timor-timur yang menegangkan.

Mereka sudah mengalami pahit getirnya tercabut dari kampung halaman tanpa bekal apapun, hidup di penampungan, dan harus hijrah ke tanah yg belum pernah mereka kenali. Kini ujian berlanjut, apakah mereka punya nyali  untuk bangkit dan menjadikan masa depan mereka bak tanah terjanji, keluarganya hidup sejahtera. Memang belum sampai puncak cita-citanya, tetapi paling tidak Baros sudah bisa membuktikan bahwa dia bisa maju bersama kambing.

"Kerjanya mudah, tinggal membuka menutup kandangnya, kambing-kambing ini sudah keluar cari makan sendiri dan masuk berteduh sendiri." tambahnya. Dengan gaji pokok 240.000 dan premi yang sudah lumayan cukup untuk menutup kebutuhan rumah tangga, kini Baros menerima paling tidak satu juta rupiah perbulan. Dengan bangga ia mengatakan tanpa beban, "Itu bonus bulanan, tabungan berkaki empat."

Monday, March 26, 2018

Mengijinkan Anak Bertanya “Mengapa”

Ada cukup banyak keluarga Indonesia di Amerika yang memulangkan anaknya ke Indonesia untuk sekolah di tanah air. Ketika ditanya alasannya, beberapa menjawab: “Pendidikan di sini mengerikan. Anak-anak menjadi nakal, tidak sopan terhadap orang tua, dikit-dikit bertanya ‘kenapa’”. Terkadang mereka menegaskan “Lebih baik dididik sopan santun di Indonesia”

Pernyataan tersebut meyiratkan apa yang sudah ditradisikan di Indonesia bahwa anak sopan itu mestinya tidak bertanya-tanya “mengapa”. Banyak orang tua, bahkan guru, yang berkesimpulan bahwa anak tak perlu menanyakan alasan melakukan sesuatu, cukuplah melakukan, melakukan, dan melakukan. Anak yang dianggap saleh dan pintar adalah yang cepat mengatakan “ya” tanpa mempertanyakan apapun. 

Tanpa kita sadari, kita telah mengubur hasrat kritis yang menjadi kemampuan dasar manusia. Adakah yang harus disalahkan ketika anak didik kita tumpul dalam menganalisa? Siapa yang harus diajak bicara ketika melihat anak kita tak siap menghadapi perbedaan pendapat? Bagaimana kita akan menelusuri mental “yes man”, yang mendarah daging di dunia kerja? Semua tak lepas dari lemahnya mata rantai pendidikan kita mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat, yang tak memberi ruang kepada anak kita untuk bertanya “mengapa”

Paling Sulit
Harus diakui, menjawab pertanyaan ‘mengapa’ memang melelahkan bagi siapapun.  Ketika anak kita masih kecil dan bertanya, “Itu apa Ma?” Tak sulit bagi kita menjawab “Itu pohon”. Namun kernyit kening akan mulai mewarnai dahi kita ketika ditanya, ‘Mengapa pohonnya menjadi besar, mengapa daunnya hijau, mengapa dahannya ada yang besar ada yang kecil’,  dan sebagainya. Tak jarang kata kasar muncul sekedar untuk menghentikan anak bertanya yang “aneh-aneh”. Secara alamiah pertanyaan kritis sudah akan membebani kita. Tak heran kalau hari demi hari kita mencoba menyingkiri pertanyaan yang demikian. Dan tanpa terasa pengalaman sulit itu telah melahirkan sebuah kesimpulan bahwa bertanya “mengapa” itu tidak diijinkan. 

Sanggar “MENGAPA” 
Sanggar Merah Merdeka (SMM) bukan menyediakan tempat di mana anak-anak melulu mengenyam pendampingan belajar akademik, bukan juga melulu untuk mengembangkan kesenian tari, suara, atau lukis. Dengan segala keterbatasannya, Sanggar ini memberi ruang kritis anak-anak untuk menjawab pertanyaan ‘mengapa’ lewat kegiatan akademik dan non akademik. Meski melelahkan, anak-anak tetap diajak belajar berinteraksi tentang dunianya, tentang kondisi lingkungannya, mengapa tak boleh berputus asa. Mereka diajak memahami bersih atau kotor rumahnya, untuk menjawab mengapa mereka memerlukan udara, air, makanan yang bersih dan sehat. Mereka berbicara tentang sampah yang terurai dan tak terurai, untuk mengatakan mengapa kita harus membuang atau memanfaaatkannya secara berbeda. Mereka berbicara tentang menabung, untuk menjawab mengapa mesti mereka yang paling bertanggungjawab atas masa depan sekolahnya. Mereka harus belanja untuk acara-acara bersama, untuk menjawab mengapa mereka harus menata keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan.  Masih banyak latihan yang lain lagi.

Seandainyapun mereka tak mendapatkan kesempatan sekolah karena keadaan ekonomi mereka, berharap kelak mereka akan menjadi orang-orang yang mandiri mulai dari pikiran mereka; sebuah pikiran yang tak takut bertanya “mengapa” sampai mereka harus menghidupi fase hidup berikutnya.

Sunday, November 18, 2012

Palembang-Prabumulih, Dari Ziarah Memori Ke MP3EI

Tanggal 14 November 2012, dengan ransel di punggungku aku berangkat cuti menyusuri Palembang, Baturaja, Bangka, dan Belitung. Ini adalah pertama kalinya saya berkunjung ke Kota Palembang. Meski demikian, nama Palembang bukan pendatang baru di benakku. Mengunjungi Palembang bagiku menjadi seperti ziarah ke masa kecil.  Hal ini terjadi karena di masa kecilku ada banyak orang bertransmigrasi ke Palembang  dan daerah-daerah lain di Pulau Sumatra. Segar diingatanku bagaimana orang menyebut nama-nama Semantrah (maksudnya Sumatra), Njambe (Jambi), Nglampung (Lampung), Rio (Riau), Plembang (Palembang), dan sebagainya. Orang menyebut Palembang sudah seperti kampung halamannya sendiri. 

Lebih dari itu Palembang menjadi kota yang sangat familier di keluargaku. Kakakku dan kakak iparku bekerja bertahun-tahun di Palembang di perusahaan pengolahan kayu lapis. Nama-nama jalan di kota Palembang dan gambaran kotanya menjadi pembicaraan kakak-kakakku ketika mereka pulang berlibur, bahkan ketika mereka sudah berhenti bekerja di  Palembang.

Meski nama sudah begitu familier, namun aroma petualangan memasuki kota baru juga begitu terasa. Pantas kalau mataku memandang liar ke tamilan-tampilan yang mengejutkan, ada papan-papan nama yang aneh seperti "bebek Baris", "Ayam Lepas". Ada pula situasi bandara yang bagus dan lancar serta  pembangunan kawasan di mana-mana. Beberapa tempat berjubel reklame iklan bisnis, baliho-baliho kampanye pemilihan kepala daerah, jembatan legendari, Ampera, yang menyeberangkan orang dari dua sisi Sungai Musi. Tentu tak ketinggalan adalah bangunan-bangunan gelanggang olah raga  yang menjadi ikon baru yang membawa Palembang semakin naik daun. Meski di sana tercium aroma Nazarudin dan “teman-teman pesta”-nya.

Perjalanan saya mengarah ke Baturaja dengan travel L300 yang sangat panas. Di bawah temaram kuning matahari sore terbacalah oleh mata saya sebuah papan nama yang menyentak kesadaran saya. Papan itu bertulis “Prabumulih.” Nama Prabumulih telah menyentak kesadaran saya bahwa saya sedang berada di situs Novel Saman tulisan Ayu Utami. Tentu tak mudah mengingat kembali rangkaian cerita Novel Saman, namun fakta-fakta sosial, lebih tepatnya pertikaian di seputar pertambangan minyak bumi, perkebunan karet dan kelapa sawit menjadi setting bagi cerita ini. Meskipun nuansa pemberontakan pemaknaan sex menjadi begitu dominan dalam novel ini, namun tak perlu menipiskan kejelian kita akan sisi lain dalam novel itu, yakni penindasan yang semakin menyesak seiring dengan hadirnya pertambangan dan perkebunan karet dan sawit di Prabumulih. 

Mengapa saya mengangkat ini? Novel saman serasa menjadi catatan masa lalu sekaligus nubuat sosial tentang apa yang akan terjadi puluhan tahun kemudian, yakni ditulis dan diberlakukannya Mater Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang  diberlakukan semenjak tahun 2011. Pada halaman 51 buku putih pembanguan itu tercatat: “Secara umum, Koridor Ekonomi Sumatera berkembang dengan baik di bidang ekonomi dan sosial dengan kegiatan ekonomi utama seperti perkebunan kelapa sawit, karet serta batubara.” Begitu jelas bahwa perkebunan dan pertambangan menjadi pintu yang seolah-olah akan mensejahterakan Sumatra dan tanpa masalah yang akan menyertainya.

Tentu tak ada salahnya, bahkan harus diacungi jempol kalau MP3EI Koridor Sumatra itu memang sebuah mimpi untuk kesejahteraan bangsa, khususnya masyarakat Sumatra. Akan tetapi sesungguhnya pelaksanaan MP3EI mengandung banyak pertanyaan, bagaimana menghandle konflik penyerobotan tanah adat dengan aneka trik yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar, bagaimana dengan masyarakat yang berubah pola hidup dari pemilik tanah menjadi buruh perkebunan, bagaimana menangani konflik horisontal yang ditimbulkan oleh ketegangan pro kontra pelaksanaan mimpi MP3EI di wilayah perkebunan dan pertambangan ini, bagaimana mengatasi korupsi di tingkat daerah yang merebak seiring dengan beredarnya uang besar di daerah, bagaimana modal-modal sosial dan nilai-nilai lokal masyarakat asli dipertahankan, bagaimana memberi varean berpikir pada anak-anak yang harus hidup di alam homogen, bagaimana menghadapi investor-investor asing yang tak punya kepentingan akan nasionalisme dan berlangsungnya peradaban masyarakat lokal, bagaimana menyiapkan batasan sehingga pertambangan tak berubah bentuk menjadi  ekspoitasi alam belaka?

Saya menulis ini untuk menjadi waspada atas apa yang biasa dan bisa terjadi, yakni ketika program-program pemerintah tak dikomunikasikan dengan adil, terutama kepada pihak-pihak yang akan terpinggirkan atau dirugikan oleh kebijakannya. Tanpa kewaspadaan itu, kita sama dengan menyerahkan diri untuk menjadi lapisan terbawah dalam piramida korban pembangunan. Pada saat ini ada banyak konflik di wilayah Sumatra. Lampung, Aceh, dan Jambi baru saja membara. Apakah kita akan menutupi seolah pelaksanaan MP3EI tak ada hubungannya dengan semua konflik sosial itu?  Demi kesadaran bersama, kita perlu menjawab bersama. 

(Palembang 17 November 2012)

Friday, May 4, 2012

BELAJAR MERDEKA


Romo Mangun sering menyebut perjumpaan tradisi Jawa yang patuh nrimo dengan perilaku feodal penjajah kolonial sebagai sebuah “tumbu oleh tutup”, sebuah keranjang mendapatkan tutupnya. Ia menyebutkan demikian karena keduanya menjadi saling melengkapi dalam membangung karakter masyarakat Jawa, yang kadang terbelenggu rasa sungkan dan nrimo terhadap apapun yang digariskan atasan.  Saya merefleksikan kembali pengalaman-pengalaman nyata di jaman mutakhir berikut ini sebagai sebuah mosaik pembelajaran menjadi manusia merdeka.
Bukan Subordinasi
Pada akhir Februari 2008 saya sempatkan melakukan pemeriksaan kesehatan di sebuah klinik pemeriksaan kesehatan di Surabaya. Begitu mendekati pintu kaca, pintu tersebut membuka dengan sendirinya, bukan karena otomatis melainkan karena dibukakan oleh seorang penjaga pintu. Saya langsung terpana karena yang membukakan pintu adalah seorang lelaki berpenampilan halus, mengenakan pakaian biru teduh, dengan membungkukkan badan, lengkap dengan jempol yang mempersilakan saya duduk. Iapun dengan badan terus membungkuk-bungkuk mengambilkan saya kartu antrian untuk menghadap customer service
Spontan pikiran saya lari pada para jongos jaman Belanda dalam film-film perjuangan, mirip para buruh tani menghadapi tuan tanahnya.  Karena belum habis terpana dengan pemandangan itu, saya tak pedulikan urutan saya. Saya tetap duduk mengamati bagaimana setiap orang masuk diperlakukan sama oleh lelaki lembut tadi. 
Dua hari sesudahnya saya bertemu dengan seorang kawan yang bekerja di bagian pemasaran di sebuah toko buku paling mentereng di Surabaya. Saya menceritakan kegundahan saya melihat pemandangan pria lembut di klinik itu. Kawan saya tersebut spontan menjawab ”Itu hasil dari kampanye management with heart, managemen dengan hati.” Wow, mendengar istilah yang menggunakan Bahasa Inggeris itu tentulah sebuah ajaran dari  luar negeri yang cenderung dianggap lebih modern oleh para manager negeri ini. Pria lembut tadi pasti hanyalah seorang karyawan yang mencoba taat pada instruksi untuk mempraktekkan pelayanan model demikian. Ia juga memikul tanggung jawab untuk melayani, ”menyenangkan” pelanggan, dengan mengangkat tinggi-tinggi harga diri pelanggan yang datang. 
Akan tetapi sikap berlebihan yang dibangun oleh managemen yang demikian itu tak jarang memupuk sikap subordinatif, sikap yang menekankan pergaulan yang diukur tinggi rendahnya seseorang. Alhasil, sikap ini tak lagi menunjukkan respek, tetapi menjukkan sikap inferior (merasa rendah), minder, dan tak berdaya dan nrimo pada komando yang dianggap lebih tinggi. Pada saat yang sama sikap ini menampilkan sikap superior, merasa tinggi dari yang lain, dan pongah pada siapapun yang bermimpi menjadi “juragan” bagi yang lain. Akhirnya, yang terjadi bukan terbangunnya managemen modern, bukan managemen dengan hati, melainkan bangkitnya managemen kolonial. Mimpi merdeka kita menjadi sangat artifisial, hanya terjadi di permukaan. 
Yang Kita Perlukan Adalah Respek
Waktu longgar memberi kesempatan pada saya untuk menikmati kopi setengah siang di sebuah toko Dunkin Donut di kawasan Washington Avenue, Philadelphia. Saya dibuat terpana oleh pengalaman berikut. Seorang anak lelaki kulit hitam (sebutan untuk masyarakat berdarah Afrika di Amerika) sekitar delapan tahunan mengikuti ibunya memasuki pintu toko. Ia tak sekedar melepaskan pintu, tetapi menoleh ke belakang dan menahannya. Ia tahu bahwa dibelakangnya adalah seorang ibu dengan troly (kereta) bayi. Melihat seorang anak yang membantunya itu ibu bayi tersebut berseru, “No, let me do, thanks. (Sudah, biarkan saya yang melakukannya, makasih.”  Dan anak kecil tadi berseru balik “Let me help you (Biarkan aku membantumu)”  Bisa diduga, ibu tadi sangatlah berterimakasih dan memuji anak itu.
Saya yang duduk di dekat pintu tak sekedar kagum, tetapi belajar sesuatu yang penting di dalam hidup ini, bahwa kemerdekaan yang sejati terbangun ketika yang seorang memberi sikap hormat atau respek dengan yang lain,  mau melayani yang lain (yang lemah), dan mengapresiasi apa yang baik yang dilakukan sesamanya. Tentulah dimaklumi kalau seandainya anak tadi dianggap lebih lemah dan dibiarkan sekedar masuk ke toko tanpa memperhatikan orang lain. Tetapi lebih dari pada kesadaran itu, anak tadi membaca kelemahan (kebutuhan) perempuan dibelakangnya karena harus melakukan banyak hal pada saat yang sama. Meski otot lebih kuat dan usia lebih dewasa, akan tetapi perempuan tadi dilihatnya dalam posisi lebih memerlukan bantuan dari pada dirinya. Nampaknya sikap itu sudah bukan lagi menjadi rentetan logika yang harus dikatakan mulut anak itu, tetapi sudah menjadi gerak reflek dan spontan, yang menunjukkan pembiasaan dalam hidupnya. Kalaulah anak itu tidak tidak ranking satu di sekolahnya, wajahnya pantas di pajang di majalah dinding sebagai guru kehidupan.
Sikap anak tadi mengundang banyak pertanyaan dalam benak saya. Pendidikan macam apa yang ia alami dan hayati?  Bagaimana sekolah dan keluarga mengajarkan dan menanamkannya? Apa yang diprioritaskan dalam pendidikan masyarakat? Lebih baik, pertanyaan-pertanyaan itu kita jawab bersama.
*Tulisan ini pernah dimuat di buletin Fides et Actio
Ignatius Suaprno, CM